BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Angka kematian ibu di Indonesia menempati urutan pertama di Negara
kawasan Asia Tenggara yaitu 307/100.000 kelahiran hidup sedangkan angka
kematian bayi juga masih tinggi yaitu 35/1000 kelahiran hidup . Sejalan dengan
komitmen pemerintah dalam menunjang upaya pencapaian Millenium Development Goals
(MDG’s) no 4 dan 5 didalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi adalah
pencapaian angka kematian ibu menjadi 112/100.000 kelahiran hidup dan angka
kematian bayi menjadi 20/1000 kelahiran hidup.
Dari berbagai faktor yang berperan pada kematian ibu dan bayi, kemampuan
kinerja petugas kesehatan berdampak langsung pada peningkatan kualitas
pelayanan kesehatan maternal dan neonatal terutama kemampuan dalam mengatasi
masalah yang bersifat kegawatdaruratan. Semua penyulit kehamilan atau
komplikasi yang terjadi dapat dihindari apabila kehamilan dan persalinan
direncanakan, diasuh dan dikelola secara benar. Untuk dapat memberikan asuhan
kehamilan dan persalinan yang cepat tepat dan benar diperlukan tenaga kesehatan
yang terampil dan profesional dalam menanganan kondisi kegawatdaruratan.
1.2 Tujuan
Dari latar
belakang diatas, maka adapun tujuan dari penulisan makalah ini dalah selain
memenuhi salah satu tugas dari dosen mata kuliah, makalah ini juga bertujuan
untuk:
1. Mengetahui
kedaruratan obstetric mengenai partus lama
2. Mengetahui
kedaruratan obstetric mengenai perdarahan post partum primer
3. Mengetahui
kedaruratan obstetric mengenai perdarahan post partum sekunder
4. Mengetahui
kedaruratan obstetric mengenai sepsis puerperalis
5. Mengetahui
kedaruratan obstetric mengenai asfiksia neonatorum
6. Mengetahui
kedaruratan obstetric mengenai prolamps tali pusat
7. Mengetahui
kedaruratan obstetric mengenai ruptura uterus
8. Mengetahui
kedaruratan obstetric mengenai komplikasi kala II
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 KEDARURATAN OBSTETRIK
a. Pengertian
Kedaruratan Obstetrik
Kegawatdaruratan obstetri adalah kondisi kesehatan yang mengancam jiwa
yang terjadi dalam kehamilan atau selama dan sesudah persalinan dan kelahiran.
Terdapat sekian banyak penyakit dan gangguan dalam kehamilan yang mengancam
keselamatan ibu dan bayinya (Chamberlain, Geoffrey, & Phillip Steer, 1999).
Kedaruratan Obstetri adalah Keadaan pada kehamilan yang membutuhkan
penenganan segera,keadaan pada kehamilan yang dapat mengancam jiwa. dapat
terjadi : awal kehamilan lanjut dan mendekati persalinan, saat persalinan dan
pasca persalinan.
b.
kedaruratan obstetric meliputi:
1. Partus
lama
2. Perdarahan
post partum primer
3. Perdarahan
post partum sekunder
4. Sepsis
puerperalis
5. Asfiksia
neonatorum
6. Prolamps
tali pusat
7. Ruptura
uterus
8. Komplikasi
kala II
2.1.1 Partus Lama/ Macet
a. Pengertian
Partus Lama
Partus macet adalah suatu keadaan dari suatu persalinan yang mengalami
kemacetan dan berlangsung lama sehingga timbul komplikasi ibu maupun janin
(anak). Partus macet merupakan persalinan yang berjalan lebih dari 24 jam untuk
primigravida dan atau 18 jam untuk multi gravid.
b. Etiologi
Penyebab
persalinan lama diantaranya adalah kelainan letak janin, kelainan panggul,
kelainan keluaran his dan mengejan, terjadi ketidakseimbangan sefalopelfik, pimpinan
persalinan yang salah dan primi tua primer atau sekunder.
c. Diagnosis
1. Keadaan Umum ibu



2. Palpasi



3. Auskultasi

4. Pemeriksaan dalam



d. Komplikasi
o Ibu





o janin



e. tindakan
v Tujuan
perawatan :
1.
Memperbaiki keadaan umum ibu
o Koreksi
cairan ( rehidrasi)
o Koreksi
keseimbangan asam basa
o Koreksi
keseimbangan elektrolit
o Pemberian
kalori
o Pemberantasan
infeksi
o Penurunan
panas
2. Mengakhiri persalinan dengan cara tergantung
dari penyebab kemacetan atau anak hidup atau mati .Sebaiknya tindakan pertama
dilakukan lebih dahulu sampai kondisi ibu optimal untuk dilakukan tindakan
kedua, diharapkan dalam 2-3 jam sudah ada perbaikan
o Bila
pembukaan lengkap dan syarat-syarat persalinan pervaginam terpenuhi maka dapat
dilakukan ekstraksi vacum, ekstraksi forcep, atau perforasi kranioflasi
o Bila
pembukaan belum lengkap dilakukan sectio caesarea
Persalinan normal berlangsung lebih kurang 14 jam, dari awal pembukaan sampai lahirnya anak
Persalinan normal berlangsung lebih kurang 14 jam, dari awal pembukaan sampai lahirnya anak
Apabila
terjadi perpanjangan dari
1. Fase laten (primi
: 20 jam, multi : 14 jam)
2. fase aktif
(primi: 1,2 cm/ jam, multi 1 ½ cm/ jam)
3. kala III (primi :
2 jam, multi : 1jam)
maka disebut partus
lama. Partus lama jika tidak segera diakhiri akan menimbulkan:
a.
Kelelahan pada ibu karena mengejan terus-menerus
sedangkan intake kalori biasanya berkurang
b.
dehidrasi dan gangguan keseimbangan asam basa/
elektrolit karena intake cairan yang kurang
c.
gawat janin sampai kematian karena asfiksia dalam jalan
lahir.
4. infeksi rahim, timbul karena ketuban pecah lama sehingga terjadi infeksi rahim yang dipermudah karena adanya manipulasi penolong yang kurang steril
4. infeksi rahim, timbul karena ketuban pecah lama sehingga terjadi infeksi rahim yang dipermudah karena adanya manipulasi penolong yang kurang steril
d. perlukaan
jalan lahir, timbulkan persalinan yang traumatic
f. gejala klinis
1. Tanda – tanda kelelahan dan intake yang kurang




2.
tanda – tanda rahim pecah (rupture uteri)




3. tanda
infeksi intra uteri


4. tanda
gawat janin



2.1.2. Perdarahan post partum primer
a.
Pengertian Post Partum primer
Pendarahan pasca persalinan (post
partum) adalah pendarahan pervaginam 500 ml atau lebih sesudah anak lahir.
Perdarahan merupakan penyebab kematian nomor satu (40%-60%) kematian ibu
melahirkan di Indonesia. Pendarahan pasca persalinan dapat disebabkan oleh
atonia uteri, sisa plasenta, retensio plasenta, inversio uteri dan laserasi
jalan lahir .
Perdarahan
postpartum adalah sebab penting kematian ibu ; ¼ dari kematian ibu yang
disebabkan oleh perdarahan ( perdarahan postpartum, plasenta previa, solution
plaentae, kehamilan ektopik, abortus dan ruptura uteri ) disebabkan oleh perdarahan
postpartum. Perdarahan postpartum sangat mempengaruhi morbiditas nifas karena
anemia mengurangkan daya tahan tubuh. Perdarahan postpartum diklasifikasikan
menjadi 2, yaitu :
1. Perdarahan Pasca Persalinan Dini
(Early Postpartum Haemorrhage, atau Perdarahan Postpartum Primer, atau
Perdarahan Pasca Persalinan Segera). Perdarahan pasca persalinan primer terjadi
dalam 24 jam pertama. Penyebab utama perdarahan pasca persalinan primer adalah
atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta, robekan jalan lahir dan
inversio uteri. Terbanyak dalam
2 jam pertama.
2. Perdarahan masa nifas (PPH kasep
atau Perdarahan Persalinan Sekunder atau Perdarahan Pasca Persalinan Lambat,
atau Late PPH). Perdarahan pascapersalinan sekunder terjadi setelah 24 jam
pertama. Perdarahan pasca persalinan sekunder sering diakibatkan oleh infeksi,
penyusutan rahim yang tidak baik, atau sisa plasenta yang tertinggal.
b. Gejala
Klinis
Gejala klinis berupa pendarahan pervaginam yang
terus-menerus setelah bayi lahir. Kehilangan banyak darah tersebut menimbulkan
tanda-tanda syok yaitu penderita pucat, tekanan darah rendah, denyut nadi cepat
dan kecil, ekstrimitas dingin, dan lain-lain. Penderita tanpa disadari dapat
kehilangan banyak darah sebelum ia tampak pucat bila pendarahan tersebut
sedikit dalam waktu yang lama.
c. Diagnosis
Perdarahan Pascapersalinan
Diagnosis biasanya tidak sulit, terutama apabila timbul
perdarahan banyak dalam waktu pendek. Tetapi bila perdarahan sedikit dalam
jangka waktu lama, tanpa disadari pasien telah kehilangan banyak darah sebelum
ia tampak pucat. Nadi serta pernafasan menjadi lebih cepat dan tekanan darah
menurun. Seorang wanita hamil yang sehat dapat kehilangan darah sebanyak 10%
dari volume total tanpa mengalami gejala-gejala klinik. Gejala-gejala baru
tampak pada kehilangan darah 20%. Jika perdarahan berlangsung terus, dapat
timbul syok. Diagnosis perdarahan pascapersalinan dipermudah apabila pada
tiap-tiap persalinan setelah anak lahir secara rutin diukur pengeluaran darah
dalam kala III dan satu jam sesudahnya. Apabila terjadi perdarahan
pascapersalinan dan plasenta belum lahir, perlu diusahakan untuk melahirkan
plasenta segera. Jika plasenta sudah lahir, perlu dibedakan antara perdarahan
akibat atonia uteri atau perdarahan karena perlukaan jalan lahir.
Pada perdarahan karena atonia uteri, uterus membesar dan
lembek pada palpasi; sedangkan pada perdarahan karena perlukaan jalan lahir,
uterus berkontraksi dengan baik. Dalam hal uterus berkontaraksi dengan baik,
perlu diperiksa lebih lanjut tentang adanya dan dimana letaknya perlukaan jalan
lahir. Pada persalinan di rumah sakit, dengan fasilitas yang baik untuk
melakukan transfusi darah, seharusnya kematian akibat perdarahan pascapersalinan
dapat dicegah. Tetapi kematian tidak data terlalu dihindarkan, terutama apabila
penderita masuk rumah sakit dalam keadaan syok karena sudah kehilangan banyak
darah. Karena persalinan di Indonesia sebagian besar terjadi di luar rumah
sakit, perdarahan post partum merupakan sebab utama kematian dalam persalinan.
d. Diagnosis perdarahan pascapersalinan
dilakukan dengan :
1.
Palpasi
uterus: bagaimana kontraksi uterus dan tinggi fundus uteri
2.
Memeriksa
plasenta dan ketuban apakah lengkap atau tidak.
3.
Lakukan
eksplorasi cavum uteri untuk mencari:



4. Inspekulo: untuk melihat robekan
pada serviks, vagina, dan varises yang pecah
5. Pemeriksaan Laboratorium periksa
darah yaitu Hb, COT (Clot Observation Test), dll Perdarahan pascapersalinan ada
kalanya merupakan perdarahan yang hebat dan menakutkan hingga dalam waktu
singkat ibu dapat jatuh kedalam keadaan syok. Atau dapat berupa perdarahan yang
menetes perlahan-lahan tetapi terus menerus yang juga bahaya karena kita tidak
menyangka akhirnya perdarahan berjumlah banyak, ibu menjadi lemas dan juga
jatuh dalam presyok dan syok. Karena itu, adalah penting sekali pada setiap ibu
yang bersalin dilakukan pengukuran kadar darah secara rutin, serta pengawasan
tekanan darah, nadi, pernafasan ibu, dan periksa juga kontraksi uterus
perdarahan selama 1 jam.
e.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perdarahan Pasca
Persalinan.
1. Perdarahan
pascapersalinan dan usia ibu
2. Perdarahan
pascapersalinan dan gravid
3. Perdarahan
pascapersalinan dan paritas
4. Perdarahan
pascapersalinan dan Antenatal Care.
2.1.3 Perdarahan post partum sekunder
a. Pengertian:
Perdarahan postpartum sekunder adalah Perdarahan yang
terjadi setelah 24 jam pertama persalinan dengan jumlah 500 cc atau lebih.
b. Sebab terjadinya perdarahan
postpartum sekunder:
1. Terdapat sisa plasenta atau kotiledonnya.
2. Terdapat sisa membran sehingga mengganggu kontraksi dan
retraksi untuk menutup pembuluh darah di tempat implantasinya.
3. Infeksi pada tempat implantasi plasenta.
4. Perdarahan karena terjadi degenerasi khoriokarsinoma.
5. Perdarahan yang bersumber dari perlukaan yang terbuka.
c.
bentuk perdarahan postpartum
sekunder :
a. Dapat terus- menerus setelah
seharusnya lokea rubra berhenti.
b. Dapat terjadi perdarahan
mendadak, seperti perdarahan postpartum primer dan diikuti gangguan sistem
kardiovaskuler sampai syok.
c. Mudah terjadi infeksi sekunder
sehingga dapat menimbulkan :


d. tanda dan gejala:
1.
Plasenta atau sebagian selaput ( mengandung pembuluh darah) tidak lengkap
2. Perdarahan
segera
3. Uterus
berkontraksi tetapi tinggi fundus tidak berkurang
Perdarahan yang terjadi saat kontraksi uterus baik, biasanya karena ada robekan atau
sisa plasenta. Sisa plasenta bisa diduga bila kala uri berlangsung tidak
lancar, atau setelah melakuka n plasenta manual atau menemukan adanya kotiledon
yang tidak lengkap pada saat melakukan pemeriksaan plasenta dan masih ada
perdarahan dari ostium uteri eksternum pada saat kontraksi rahim sudah baik dan
robekan jalan lahir sudah terjahit.Untuk itu, harus di lakukan eksplorasi ke
dalam rahim dengan cara manual atau kurek .
e. diagnosis patologi klinik:
1. Plasenta akreta




2. Plasenta inkreta


3. Plasenta perkreta


4. Plasenta inkarserata
v Plasenta telah lepas dari implantasinya, tetapi tertahan.
f.
diagnosis perdarahan pasca persalinan
Diagnosis biasanya tidak sulit, terutama apabila
timbul perdarahan banyak dalam waktu pendek. Tetapi bila perdarahan sedikit
dalam jangka waktu lama, tanpa disadari pasien telah kehilangan banyak darah
sebelum pasien tersebut tampak pucat.Nadi serta pernafasan menjadi lebih cepat
dan tekanan darah menurun.
Diagnosis perdarahan pasca persalinan dipermudah apabila
pada tiap-tiap persalinan setelah anak lahir secara rutin diukur pengeluaran
darah pada kala III dan satu jam sesudahnya. Apabila terjadi perdarahan pasca
persalinan dan plasenta belum keluar perlu diusahakan untuk mengeluarkan
plasenta segera .Jika plasenta sudah lahir, perlu dibedakan antara perdarahan
akibat atonia uteri atau perdarahan karena perlukaan jalan lahir.
Diagnosis perdarahan pasca
persalinan:
a. Palpasi uterus: Bagaimana kontraksi uterus dan tinggi
fundus uteri
b. Memeriksa plasenta dan ketuban apakah lengkap atau tidak
c. Lakukan eksplorasi cavum uteri untuk mencari:
1. Sisa plasenta atau selaput ketuban
2. Robekan rahim
3. Plasenta suksenturiata
d. Inspekulo: untuk melihat robekan pada servik, vagina, dan
varises yang pecah
e. Pemeriksaan laboratorium periksa darah yaitu Hb
Perdarahan pasca persalinan adakalanya merupakan
perdarahan yang hebat dan menakutkan hingga dalam waktu singkat ibu dapat jatuh
kedalam keadaan syok.Atau dapat berupa perdarahan yang menetes perlahan –lahan
tetapi terus menerus yang juga bahaya karena kita tidak menyangka
akhirnya perdarahan berjumlah banyak, ibu menjadi lemas dan juga dalam presyok
dan syok.karena itu, adalah penting sekali pada setiap ibu yang bersalin
dilakukan pengukuran kadar Hb secara rutin, serta pengawasan tekanan darah
,nadi, pernafasan ibu, dan periksa juga kontraksi uterus perdarahan selama 2
jam.
g.
Penanganan perdarahan postpartum sekunder:
1. Pasang infus dan transfusi darah.
2. Tergantung dari sumber perdarahannya:
1.
Perdarahan
berasal dari perlukaan yang terbuka :
a. Dijahit kembali
b. Evaluasi kemungkinan terjadi hematoma
2.
Perdarahan
berasal dari bekas implantasi plasenta :
a. Lakukan anesthesia dengan demikian kuretase dapat di
lakukan dengan aman dan bersih.
b. Jaringan yang di dapatkan harus dilakukan pemeriksaan
untuk memperoleh kepastian.
3.
Perawatan
terapi sekunder perdarahan postpartum:
a. Rehidrasi diteruskan sampai tercapai keadaan optimal
b. Berikan antibiotika
c. Berikan pengobatan suportif:
d. Gizi yang baik
e. Vitamin dan praparat Fe
2.1.4 Sepsis Puerperalis
a. Definisi Sepsis Puerperalis
Sepsis puerperalis adalah infeksi
pada traktus genitalia yang dapat terjadi setiap saat antara awitan pecah
ketuban (ruptur membran) atau persalinan dan 42 hari setelah persalinan atau
abortus di mana terdapat dua atau lebih dan hal – hal berikut ini :


rabas – vagina yang abnormal;


b. Bakteri Penyebab Sepsis Puerperalis
Beberapa bakteri yang paling umum
adalah
o
streptokokus
o
stafilokokus
o
Escherichia
coli (E. Coli)
o
Clostridium
tetani
o
Clostridium
width
o
Chlamidia
dan gonokokus (bakteri penyebab penyakit menular seksual).
Infeksi yang paling sering ditemukan adalah infeksi gabungan antara beberapa macam bakteri. Bakteri tersebut bisa endogen atau eksogen.
v Bakteri Endogen
Bakteri ini secara normal hidup di
vagina dan rektum tanpa menimbulkan bahaya (misal, beberapa jenis stretopkokus
dan stafilokokus, E. Coli, Clostridium welchii). Bahkan jika teknik steril
sudah digunakan untuk persalinan, infeksi masih dapat terjadi akibat bakteri
endogen.
Bakteri endogen juga dapat membahayakan dan menyebabkan infeksi jika :



v Bakteri eksogen
Bakteri ini masuk ke dalam vagina
dari luar (streptokokus, Clostridium tetani, dsb).
Bakteri eksogen dapat masuk ke dalam vagina :
Bakteri eksogen dapat masuk ke dalam vagina :
§ melalui tangan yang tidak bersih dan
instrumen yang tida steril
§ melalui substansi / benda asing yang
masuk ke dalam vagina (misal, ramuan / jamu, minyak, kain);
§ melalui aktivitas seksual.
Peserta didik harus mengetahui masalah tetanus postpartum dan penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri eksogen. Tetanus postpartum adalah infeksi pada ibu atau bayi yang disebabkan oleh Clostridium tetani.
v Bakteri tetanus hidup di tanah terutama tanah basah
yang kaya akan pupuk hewani. Bakteri tetanus dapat masuk ke tubuh ibu jika
tangan yang tidak bersih, kain, kotoran sapi, atau ramu – ramuan dimasukkan ke
dalam vagina. Bakteri ini masuk ke tubuh bayi melalui umbilikus jika tali pusat
dipotong dengan instrumen yang tidak bersih, atau ramu – ramuan, atau kotoran
sapi digunakan untuk membalut tali pusat.
v Infeksi tetanus sangat berat dan menyebabkan
kekakuan, spasme, konvulsi, dan kematian. Tetanus dapat dicegah dengan memastikan
bahwa setiap ibu hamil mendapatkan imunisasi tetanus toksoid selama kehamilan.
Imunisasi ini akan melindungi ibu dan bayi dari infeksi tetanus.
Di tempat – tempat di mana penyakit menular seksual (PMS)
(misal, gonorrhea dan infeksi klamidial) merupakan kejadian yang biasa,
penyakit tersebut merupakan penyebab terbesar terjadinya infeksi uterus. Jika
seorang ibu terkena PMS selama kehamilan dan tidak diobati, bakteri penyebab
PMS itu akan tetap berada di vagina dan bisa menyebabkan infeksi uterus setelah
persalinan.
v
Infeksi
uterus yang disebabkan oleh PMS dapat
dicegah dengan mendiagnosis dan mengobati ibu yang terkena PMS selama kehamilan
mereka.

Ibu
biasanya mengalami demam tetapi mungkin tidak seperti demam pada infeksi
klostridial. Ibu dapat mengalami nyeri pelvik, nyeri tekan di uterus, lokia
mungkin berbau menyengat (busuk), dan mungkin terjadi suatu keterlambatan dalam
kecepatan penurunan ukuran uterus. Di sisi laserasi atau episiotomi mungkin akan
terasa nyeri, membengkak, dan mengeluarkan cairan bernanah.

Ada beberapa ibu yang lebih mudah
terkena sepsis puerperalis, misalnya ibu yang mengalami anemia atau kekurangan
gizi atau ibu yang mengalami persalinan lama.
2.1.5 Asfiksia
Neonatorum
a. Pengertian Asfiksia Neonatorum
Asfiksia
Neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara
spontan dan teratur segera setelah lahir, sehingga dapat menurunkan O2 dan
mungkin meningkatkan C02 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih
lanjut.
Atas dasar pengalaman klinis,
Asfikia Neonaiorum dapat dibagi dalam :
§ "Vigorous baby'' skor apgar
7-10, dalam hal ini bayi dianggap sehat dan tidak memerkikan istimewa.
§ "Mild-moderate asphyxia"
(asfiksia sedang) skor apgar 4-6 pada pemeriksaan fisis akan terlihat frekuensi
jantung lebih dari lOOx/menit, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis,
refick iritabilitas tidak ada . Asfiksia berat: skor apgar 0-3. Pada
pemeriksaan fisis ditemukan' frekuensi jantung kurang dari l00x/menit, tonus
otot buruk, sianosis berat dan kadang-kadang pucat, reflek iritabilitas tidak
ada
Asfiksia berat dengan henti jantung
yaitu keadaan :
1.
Bunyi jantung fetus menghilang tidak
lebih dari 10 menit sebelu lahir lengkap.
2.
Bunyi jantung bayi menghilang post
partum.
b. Etiologi
Asfiksia
janin atau neonatus akan terjadi jika terdapat gangguan perlukaran gas atau
pengangkutang O2 dari ibu kejanin. Gangguan ini dapat timbul pada masa
kehamilan, persalinan atau segera setelah lahir. Hampir sehagian besar asfiksia
bayi baru lahir meriip;ik;in kcltiniutan asfiksia janin, karena itu penilaian
janin selama kehamilan dan persalinan. memegang peran penting untuk keselamatan
bayi atau kelangsungan hidup yang sempurna tanpa gejala sisa.
Penggolongan penyebab kegagalan pernafasan pada bayi terdiri dari:
1. Faktor Ibu
a.
Hipoksia
ibu Terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat analgetika atau
anestesia dalam. Hal ini akan menimbulkan hipoksia janin
b.
Gangguan
aliran darah uterus. Mengurangnya aliran darah pada uterus akan menyebabkan
berkurangnya pengaliran oksigen ke plasenta dan kejanin. Hal ini sering
ditemukan pada :




2. Faktor plasenta
Pertukaran
gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi plasenta. .Asfiksia
janin akan terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada plasenta, misalnya
solusio plasenta, perdarahan plasenta dan lain-lain.
3. Faktor fetus
Kompresi
umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam pcmbuluh darah
umbilikus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran
darah ini dapat ditemukan pada keadaan : tali pusat menumbung, tali pusat
melilit leher kompresi tali pusat antar janin dan jalan lahir dan lain-lain.
4. Faktor Neonatus
Depresi
pusat pernapasan pada bayi baun lahir dapat terjadi karena :
1. Pemakaian obat anestesia/analgetika
yang berlebihan pada ibu secara langsung dapat menimbulkan depresi pusat
pernafasan janin.
2. Trauma yang terjadi pada persalinan,
misalnya perdarah intrakranial. Kelainan konginental pada bayi, misalnya hernia
diafrakmatika atresia/stenosis saluran pernafasan, hipoplasia paru dan
lain-lain.
c. Patofisiologi
Pernafasan
spontan bayi baru lahir bergantung kepada kondisi janin pada masa kehamilan dan
persalinan. Proses kelahiran sendiri selalu menimbulkankan asfiksia ringan yang
bersifat sementara pada bayi (asfiksia transien), proses ini dianggap sangat
perlu untuk merangsang kemoreseptor pusat pernafasan agar lerjadi “Primarg
gasping” yang kemudian akan berlanjut dengan pernafasan.
Bila
terdapat gangguaan pertukaran gas/pengangkutan O2 selama kehamilan persalinan
akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini akan mempengaruhi fugsi sel
tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan kematian. Kerusakan dan gangguan
fungsi ini dapat reversibel/tidak tergantung kepada berat dan lamanya asfiksia.
Asfiksia
yang terjadi dimulai dengan suatu periode apnu (Primany apnea) disertai dengan
penurunan frekuensi jantung selanjutnya bayi akan memperlihatkan usaha bernafas
(gasping) yang kemudian diikuti oleh pernafasan teratur. Pada penderita
asfiksia berat, usaha bernafas ini tidak tampak dan bayi selanjutnya berada
dalam periode apnu kedua (Secondary apnea). Pada tingkat ini ditemukan bradikardi
dan penurunan tekanan darah.
Disamping
adanya perubahan klinis, akan terjadi pula G3 metabolisme dan pemeriksaan
keseimbangan asam basa pada tubuh bayi. Pada tingkat pertama dan pertukaran gas
mungkin hanya menimbulkan asidoris respiratorik, bila G3 berlanjut dalam tubuh
bayi akan terjadi metabolisme anaerobik yang berupa glikolisis glikogen tubuh ,
sehingga glikogen tubuh terutama pada jantung dan hati akan berkuang.asam
organik terjadi akibat metabolisme ini akan menyebabkan tumbuhnya asidosis
metabolik. Pada tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskuler yang
disebabkan oleh beberapa keadaan diantaranya hilangnya sumber glikogen dalam
jantung akan mempengaruhi fungsi jantung terjadinya asidosis metabolik akan
mengakibatkan menurunnya sel jaringan termasuk otot jantung sehinga menimbulkan
kelemahan jantung dan pengisian udara alveolus yang kurang adekuat akan
menyebabkan akan tingginya resistensinya pembuluh darah paru sehingga sirkulasi
darah ke paru dan kesistem tubuh lain akan mengalami gangguan. Asidosis dan
gangguan kardiovaskuler yang terjadi dalam tubuh berakibat buruk terhadap sel
otak. Kerusakan sel otak yang terjadi menimbuikan kematian atau gejala sisa pada
kehidupan bayi selanjutnya.
d. Manifestasi Klinis
Asfiksia biasanya merupakan akibat
dari hipoksi janin yang menimbulkan tanda:






e. Penatalaksanaan Klinis
a. Tindakan Umum
-
Bersihkan
jalan nafas : kepala bayi dileakkan lebih rendah agar lendir mudah mengalir,
bila perlu digunakan larinyoskop untuk membantu penghisapan lendir dari saluran
nafas ayang lebih dalam.
-
Rangsang
reflek pernafasan : dilakukan setelah 20 detik bayi tidak memperlihatkan
bernafas dengan cara memukul kedua telapak kaki menekan tanda achiles.
-
Mempertahankan
suhu tubuh.
b. Tindakan khusus
§ Asfiksia berat
Berikan O2 dengan tekanan positif
dan intermiten melalui pipa endotrakeal. dapat dilakukan dengan tiupan udara
yang telah diperkaya dengan O2. Tekanan O2 yang diberikan tidak 30 cm H 20.
Bila pernafasan spontan tidak timbul lakukan message jantung dengan ibu jari
yang menekan pertengahan sternum 80 –100 x/menit.
§ Asfiksia sedang/ringan
Pasang relkiek pernafasan (hisap
lendir, rangsang nyeri) selama 30-60 detik. Bila gagal lakukan pernafasan kodok
(Frog breathing) 1-2 menit yaitu : kepala bayi ektensi maksimal beri Oz 1-2
1/mnt melalui kateter dalam hidung, buka tutup mulut dan hidung serta gerakkan
dagu ke atas-bawah secara teratur 20x/menit.
§ Penghisapan cairan lambung untuk
mencegah regurgitasi
f. Pemeriksaan Diagnostik




2.1.6.
Prolap
Tali Pusat(Occult Prolapse)
a.
Pengertian Prolap Tali Pusat
Prolap tali merupakan komplikasi
yang jarang terjadi,tetapi dapat mengakibatkan tingginya kematian janin.Oleh
karena itu diperlukan keputusan yang matang dan pengelolaan segera.
Prolap tali pusat dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
1. Tali pusat terkemuka, bila tali
pusat berada dibawah bagian terendah janin dan ketuban masih intak.
2. Tali pusat menumbung,bila tali pusat
keluar melalui ketuban yang sudah pecah keservik,dan turun kevagina.
3. Occult prolapse,tali pusat berada
disamping bagian terendah janin turun kevagina .
b. Prevalensi
Prolap Tali Pusat
Faktor
dasar yang merupakan faktor presdisposisi prolap tali pusat adalah tidak
terisinya secara penuh pintu atas panggul dan servik oleh bagian terendah
janin.
Faktor-faktor
etiologi prolap tali pusat meliputi beberapa faktor yang sering berhubungan
dengan ibu,janin,plasenta,tali pusat dan iatrogenik:
Presentasi
yang abnormal seperti letak lintang atau letak sungsang terutama presentasi
kaki.
·
Prematuritas.
·
Kehamilan
ganda.
·
Polihidramnion
sering dihubungkandengan bagian terendah janin yang tidak engage.
·
Multiparitas
predisposisi terjadinya malpresentasi.
·
Disproporsi
janin-panggul
·
Tumor
dipanggul yang mengganggumasuknya bagian terendah janin.
·
Tali
pusat abnormal panjang (> 75 cm)
·
Plasenta
letak rendah
·
Sulosio
plasenta
·
Ketuban
pecah dini
·
Amniotomi
c. Patofisiologi
prolap tali pusat
Tekanan pada tali pusat oleh bagian
terendah janin dan jalan lahir akan mengurangi atau menghilangkan sirkulasi
plasenta. Bila tidak dikoreksi,komplikasi ini dapat mengakibatkan kematian
janin. Obstruksi yang lengkap dari tali pusat menyebabkan dengan segera
berkurangnya DJJ (deselerasi variabel ). Bila obstruksinya hilang dengan
cepat,detak jantung janin kembali normal. Akan tetapi ,bila obstruksinya
menetap terjadilah deselerasi yang dilanjutkan dengan hipoksia langsung
terhadap miokard sehingga mengakibatkan deselerasi yang lama. Bila dibiarkan
,terjadi kematian janin.
Seandainya obstruksinya sebagian
,akan menyebabkan akselerasi detak jantung.penutupan vena umbilikalis
mendahului penutupan arteri yang menghasilkan hipovalemi janin dan
mengakibatkan akselerasi jantung janin.Gangguan aliran darah yang lama melalui
tali pusat menghasilkan asidosis respiratoir dan metabolik yang
berat,berkurangnya oksigenasi janin,bradikardi yang menetap,akan mengakibatkan
kematian janin. Prolap tali pusat tidak berpengaruh langsung pada kehamilan
atau jalannya persalinan.
d. Diagnosis
Diagnosis prolaps tali pusat dapat melibatkan beberapa cara:
a. Melihat tali pusat keluar dari
introitus vagina
b. Teraba secara kebetulan tali pusat
pada waktu pemeriksaan dalam
c. Auskultasi terdengar DJJ yang
ireguler,sering dengan bradikardi yang jelas,terutama berhubungan dengan
kontraksi uterus
d. Monitoring DJJ yang berkesinambungan
memperlihatkan adanya deselerasi variabel
e. Tekanan pada bagian terendah janin
oleh manipulasi eksterna terhadap pintu atas panggul menyebabkan penurunannya
DJJ secara tiba-tiba yang menandakan kompresi tali pusat
e. Prognosis
Komplikasi
ibu seperti laserasi jalan lahir,ruptura uteri,atonia uteri akibat
anastesia,anemia dan infeksi dapat terjadi sebagai dari usaha menyelamatkan
bayi. Kematian perinatal sekitar 20-30%.Prognosis janin membaik dengan seksio
sesaria secara liberal untuk terapi prolap tali pusat.
Prognosis
janin tergantung pada beberapa faktor berikut:
a. Angka kematian untuk bayi prematur
dengan prolap tali pusat hampir 4 kali lebih tinggi dari pada bayi aterm.
b. Bila gawat janin dibuktikan oleh
detak jantung yang abnormal,adanya cairan amnion yang terwarnai oleh
mekonium,atau tali pusat pulsasinya lemah,maka prognosis janin buruk.
c. Jarak antara prolap dan persalinan
merupakan faktor yang paling kritis untuk janin hidup.
d. Dikenalnya segera prolap memperbaiki
kemungkinan janin hidup.
e. Angka kematian janin pada prolap
tali pusat yang letaknya sungsang atau lintang sama tingginya dengan presentasi
kepala.
2.1.7.
Ruptura Uterus
a.
Pengertian Ruptura Uterus
Ruptur uteri merupakan peristiwa yang paling gawat
dalam bidang kebidanan karena angka kematiannya yang tinggi. Janin pada ruptur
uteri yang terjadi di luar rumah sakit sudah dapat dipastikan meninggal
dalam kavum abdomen. Ruptura uteri masih sering dijumpai di Indonesia karena
persalinan masih banyak ditolong oleh dukun. Dukun seagian besar belum
mengetahui mekanisme persalinan yang benar, sehingga kemacetan proses
persalinan dilakukan dengan dorongan pada fundus uteri dan dapat mempercepat
terjadinya ruptura uteri.
Menurut Sarwono Prawirohardjo pengertian ruptura
uteri adalah robekan atau diskontinuitas dinding rahim akiat dilampauinya daya
regang mio metrium. Penyebab ruptura uteri adalah disproporsi janin dan
panggul, partus macet atau traumatik. Ruptura uteri termasuk salahs at
diagnosis banding apabila wanita dalam persalinan lama mengeluh nyeri hebat
pada perut bawah, diikuti dengan syok dan perdarahan pervaginam. Robekan
tersebut dapat mencapai kandung kemih dan organ vital di sekitarnya.
Resiko infeksi sangat tinggi dan angka kematian bayi
sangat tinggi pada kasus ini. Ruptura uteri inkomplit yang menyebabkan hematoma
pada para metrium, kadang-kadang sangat sulit untuk segera dikenali sehingga
menimbulkan komplikasi serius atau bahkan kematian. Syok yang terjadi
seringkali tidak sesuai dengan jumlah darah keluar karena perdarhan heat dapat
terjadi ke dalam kavum abdomen. Keadaan-keadaan seperti ini, sangat perlu untuk
diwaspadai pada partus lama atau kasep.
b.
Masalah
1.
Morbiditas
dan mortalitas yang tinggi pada kasus ini
2.
konservasi
fungsi reproduksi
3.
Resiko
ruptura uteri ulangan
c.
Faktor Predisposisi
1.
Multiparitas
/ grandemultipara
2.
Pemakaian
oksitosin untuk induksi/stimulasi persalinan yang tidak tepat
3.
Kelainan
letak dan implantasi plasenta umpamanya pada plasenta akreta, plasenta
inkreta/plasenta perkreta.
4.
Kelainan
bentuk uterus umpamanya uterus bikornis
5.
Hidramnion
Cara
terjadinya atau jenis rupture uteri adalah :
1.
Ruptura
uteri spontan
a.
Terjadi
spontan dan seagian besar pada persalinan
b.
Terjadi
gangguan mekanisme persalinan sehingga menimbulkan ketegangan segmen bawah
rahim yang berlebihan
2.
Ruptur
uteri trumatik
a. Terjadi pada persalinan
b. Timbulnya ruptura uteri karena tindakan seperti
ekstraksi farsep, ekstraksi vakum, dll
3.
Rupture
uteri pada bekas luka uterus Terjadinya
spontan atau bekas seksio sesarea dan bekas operasi pada uterus.
Pembagian
rupture uteri menurut robeknya dibagi menjadi :
1. Ruptur uteri kompleta
a.
Jaringan
peritoneum ikut robek
b.
Janin
terlempar ke ruangan abdomen
c.
Terjadi
perdarahan ke dalam ruangan abdomen
d.
Mudah
terjadi infeksi
2. Ruptura uteri inkompleta
a. Jaringan peritoneum tidak ikut robek
b. Janin tidak terlempar ke dalam ruangan abdomen
c. Perdarahan ke dalam ruangan abdomen tidak terjadi
d. Perdarahan dapat dalam bentuk hematoma
e.
Gejala
Biasaya ruptura uteri didahului oleh gejala-gejala
ruptura membakat, yaitu his yang kuat dan terus-menerus, rasa nyeri yang hebat
di perut bagian bawah nyeri waktu ditekan, gelisah atau seperti ketakutan, nadi
dan pernapasan cepat, cincin van bandl meninggi.
Setelah terjadi ruptura uteri dijumpai
gejala-gejala syok, perdarahan (bisa keluar melalui vagina ataupun kedalam
rongga perut), pucat, nadi cepat dan halus, pernapasan cepat dan dangkal,
tekanan darah turun. Pada palpasi sering bagian-bagian janin dapat diraba
langsung di awah dinding perut, ada nyeri tekan, dan di perut bagian
bawah teraba uteus kira-kira seesar kepala bayi. Umumnya janin sudah meninggi.
Jika kejadian ruptura uteri telah lama terjadi,
akan timbul gejala-gejala meteorismus dan defence musculare sehingga sulit
untuk dapat meraba bagian janin.
f.
Prognosis
Rupture uteri merupakan malapetaka untuk ibu
maupun janin. Oleh karena itu tindakan pencegahan sangat penting dilakukan.
Setiap ibu bersalin yang disangka akan mengalami distosia, kelainan letak
janin, atau pernah mengalami tindakan operatif pada uterus seperti seksio
sesarea, miomektomi dll, harus diawasi dengan cermat. Hal ini perlu dilakukan
agar tindakan dapat segera dilakukan jika gejala-gejala ruptura uteri membakat,
sehingga ruptura uteri dapat dicegah terjadinya pada waktu yang tepat.
g.
Penanganan / Penatalaksanaan
Penanganan ruptura uteri memerlukan tindakan
spesialistis dan hanya mungkin dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas
transfusi darah. Sikap bidan kalau menerima kiriman penderita dengan ruptura
uteri di pedesaan adalah melakukan observasi saat menolong persalinan sehingga
dapat melakukan rujukan bila terjadi ruptura uteri mengancam atau membakat.
Oleh karena itu, kerja sama dengan dokter puskesmas atau dokter keluarga sangat
penting.
Mengahdapi ruptura uteri yang dapat mencapai polindes/puskesmas
segera harus dilakukan :
a.
Pemasangan
infus untuk mengganti cairan dan perdarahan untuk mengatasi keadaan syok
b.
Memberikan
profilaksis antibiotika atau antipiretik. Sehingga infeksi dapat dikurangi.
c.
Segera
merujuk penderita dengan didampingi petugas agar dapat memberikan pertolongan
d.
Jangan
melakukan manipulasi dengan pemeriksaan dalam untuk menghindari terjadinya
perdarahan baru.
Menurut Sarwono Prawirohardjo Penanganan ruptura
uteri :
a.
Berikan
seera cairan isotonik (ringer loktat atau garam fisiologis) 500 ml dalam 15-20
menit dan siapkan laparotomi
b.
Lakukan
laparatomi untuk melahirkan anak dan plasenta, fasilitas pelayanan kesehatan
dasar harus merujuk pasien ke rumah sakit rujukan
c.
Bila
konservasi uterus masih diperlukan dan kondisi jaringan memungkinkan, lakukan
reparasi uterus
d.
Bila luka
menalami nekrosis yang luas dan kondisi pasien mengkhawatirkan lakukan
histerektomi
e.
Antibiotika
dan serum anti tetanus.
Bila
terdapat tanda-tanda infeksi segera berikan antibiotika spektrum luas. Bila
terdapat tanda-tanda trauma alat genetalia/luka yang kotor, tanyakan saat
terakhir mendapat tetanus toksoid. Bila hasil anamnesis tidak dapat memastikan
perlindungan terhadap tetanus, berikan serum anti tetanus 1500 IU/IM dan TT 0,5
ml IM
Demikian dalam menghadapi ruptura di daerah
pedesaan, bidan harus segera melakukan rujukan untuk menyelamatkan jiwa
pendeta. Ruptura uteri yang dapat mencapai polindes atau puskesmas adalah
ruptura uteri yang tidak disertai robekan pembuluh darah besar sehingga
diselamatkan dari bahaya kematian karena infeksi dan perdarahan.
2.1.8 Komplikasi Kala II
Gejala
dan tanda kala II telah tejadi pembukaan lengkap, tampak bagian kepala janin
melalui pembukaan introitus vagina, ada rasa ingin meneran saat kontraksi, ada
dorongan pada rectum atau vagina, perineum terlihat menonjol, vulva dan
springterani membuka, peningkatan pengeluaran lender darah. Dimulai dari
pembukaan lengkap sampai bayi lahir. Proses ini biasanya berlangsung 2 jam pada
primigravid dan 1 jam pada multigravida.
Pada kala pengeluaran janin telah
turun masuk ruang panggul sehingga terjadi tekanan pada otot-otot dasar panggul
yang secara reflektoris menimbulkan rasa mengedan, karena tekanan pada rectum
ibu merasa ingin buang air besar dengan tanda anus membuka. Pada waktu his
kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka, perineum membuka,perineum
meregang. Komplikasi yang dapat timbul adalah sebgai berikut: eklamsi,
kegawatdaruratan janin.
Adapun komplikasi Kala I dan Kala II
meliputi:
1.
Persalinan lama
Masalah : Fase laten lebih dari 8
jam
Persalinan telah berlangsung selama
12 jam/lebih tanpa kelahiran bayi. Dilatasi serviks di kanan garis waspada pada
partograf.
Disebabkan beberapa faktor:
1. kecemasan dan ketakutan
2.
pemberian
analgetik yang kuat atau pemberian analgetikyangterlalalu cepat pada persalinan
dan pemberian anastesi sebelum fase aktif.
3.
abnormalitas
pada tenaga ekspulsi
4.
abnormalitas
pada panggul
5.
kelainan
pada letak dan bentuk janin
Penanganan
Umum :
a. Nilai dengan segera keadaan umum ibu
hamil dan janin (termasuk tanda vital dan tingkat hidrasinya). Dan perbaiki
keadaan umum
b. Dukungan, perubahan posisi, (sesuai
dengan penanganan persalinan normal).
c. Periksa kefon dalam urine dan
berikan cairan, baik oral maupun parenteral dan upayakan buang air kecil
(kateter bila perlu). tramadol atau®Berikan analgesic petidin 25 mg IM
(maximum 1 mg/kg BB atau morfin 10 mg IM, jika pasien merasakan nyeri.
d.
Kaji
kembali partograf, tentukan apakah pasien berada dalam persalinan.
e. Nilai frekuensi dan lamanya His .
Penanganan Khusus
a. Persalinan palsu/belum in partu
(False Labor)
Periksa apakah ada ISK atau ketuban pecah, jika didapatkan
adanya infeksi, obati secara adekuat, jika tidak ada pasien boleh rawat jalan.
b.
Fase
laten memanjang (Prolonged Latent Phase)
1. Diagnosa fase laten memanjang dibuat
secara retrospektif, jika his berhenti. Pasien disebut belum inpartu/persalinan
palsu. Jika his makin teratur dan pembukaan makin bertambah lebih dari 4 cm,
pasien masuk dalam fase laten
2. Jika fase laten lebih dari 8 jam dan
tidak ada tanda-tanda kemajuan lekukan penilaian ulang terhadap serviks
3. Jika tidak ada perubahan pada
pendataran atau pembukaan serviks dan tidak ada gawat janin, mungkin pasien
belum inpartu.
4. Jika ada kemajuan dalam pendataran
atau pembukaan serviks lakukan amniotomi dan induksi persalinan dengan
oksitosin atau prostaglandin.
5. Lakukan penilaian ulang setiap 4
jam.
6. Jika pasien tidak masuk fase aktif
setelah dilakukan pemberian oksitosin selama 8 jam, lakukan SC.
7. Jika didapatkan tanda-tanda infeki
(demam, cairan, berbau): Lakukan akselerasi persalinan dengan oksitosin.
Berikan antibiotika kombinasi sampai persalinan. Ampisilin 2 g IV setiap 6 jam.
Ditambah Gentaisin 5 mg/kgBB IV setiap 24 jam.
8. Jika terjadi persalinan pervaginam
stop antibiotika pasca persalinan
9. Jika dilakukan SC, lanjutkan
pemberian antibiotika ditambah Metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam sampai ibu
bebas demam selama 48 jam.
3)
Fase Aktif Memanjang
Jika tidak ada tanda-tanda CPD atau
obstruksi, dan ketuban masih utuh, pecahkan ketuban.
a. Nilai His Jika his tidak adekuat
(<3>Jika his adekuat (3 kali dalam 10 menit dan lamanya > 40 detik)
pertimbangkan disproporsi, obstruksi, malposisi/mal presentasi
b. Lakukan penanganan umum untuk
memperbaiki his dan mempercepat kemajuan persalinan
b) Partus Presipitatus
Partus presipitatus adalah kejadian
dimana ekspulsi janin berlangsung kurang dari 3 jam setelah awal persalinan.
Partus presipitatus sering berkaitan dengan Solusio plasenta (20%)
Aspirasi mekonium, Perdarahan post partu,Pengguna cocain, Apgar score rendah.
Komplikasi maternal Jarang terjadi bila dilatasi servik dapat berlangsung
secara normal. Bila servik panjang dan jalan lahir kaku, akan terjadi robekan
servik dan jalan lahir yang luas, Emboli air ketuban (jarang), Atonia uteri
dengan akibat HPP. terjadi karena Kontraksi uterus yang terlalu kuat akan
menyebabkan asfiksia intrauterine, Trauma intrakranial akibat tahanan jalan
lahir.

Kejadian
ini biasanya berulang, sehingga perlu informasi dan pengawasan yang baik pada
kehamilan yang sedang berlangsung. Hentikan pemberian oksitosin drip bila
sedang diberikan.
c) Distosia
Distosia adalah kelambatan atau
kesulitan persalinan. Dapat disebabkan kelainan tenaga, kelainan letak, dan
bentuk janin, serta kelainan jalan lahir
1. Distosia karena kelainan tenaga/his



2. Distosia karena kelainanletak dan
bentuk janin
3. Distosia karena jalan lahir
BAB
III
PENUTUP
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Dari
Pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa :
1. Partus
macet adalah suatu keadaan dari suatu persalinan yang mengalami kemacetan dan
berlangsung lama sehingga timbul komplikasi ibu maupun janin (anak). Partus
macet merupakan persalinan yang berjalan lebih dari 24 jam untuk primigravida
dan atau 18 jam untuk multi gravid.
2. Perdarahan Pasca Persalinan Dini
(Early Postpartum Haemorrhage, atau Perdarahan Postpartum Primer, atau
Perdarahan Pasca Persalinan Segera). Perdarahan pasca persalinan primer terjadi
dalam 24 jam pertama. Penyebab utama perdarahan pasca persalinan primer adalah
atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta, robekan jalan lahir dan
inversio uteri. Terbanyak dalam 2 jam pertama.
3. Perdarahan postpartum sekunder adalah Perdarahan yang
terjadi setelah 24 jam pertama persalinan dengan jumlah 500 cc atau lebih.
4. Sepsis puerperalis adalah infeksi
pada traktus genitalia yang dapat terjadi setiap saat antara awitan pecah
ketuban (ruptur membran) atau persalinan dan 42 hari setelah persalinan atau
abortus di mana terdapat dua atau lebih dan hal – hal berikut ini :
1. Nyeri pelvik;
2. Demam 38,5°C atau lebih yang diukur
melalui oral kapan saja;
rabas – vagina yang abnormal;
rabas – vagina yang abnormal;
3. Rabas – vagina berbau busuk;
4. Keterlambatan dalam kecepatan penurunan
ukuran uterus (sub involusio uteri)
5. Asfiksia Neonatorum adalah suatu
keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera
setelah lahir, sehingga dapat menurunkan O2 dan mungkin meningkatkan C02 yang
menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut.
6. Prolap tali merupakan komplikasi
yang jarang terjadi,tetapi dapat mengakibatkan tingginya kematian janin.Oleh
karena itu diperlukan keputusan yang matang dan pengelolaan segera.
7. Menurut Sarwono Prawirohardjo pengertian ruptura
uteri adalah robekan atau diskontinuitas dinding rahim akiat dilampauinya daya
regang mio metrium. Penyebab ruptura uteri adalah disproporsi janin dan
panggul, partus macet atau traumatik. Ruptura uteri termasuk salahs at
diagnosis banding apabila wanita dalam persalinan lama mengeluh nyeri hebat
pada perut bawah, diikuti dengan syok dan perdarahan pervaginam. Robekan
tersebut dapat mencapai kandung kemih dan organ vital di sekitarnya.
8. Gejala dan tanda kala II telah
tejadi pembukaan lengkap, tampak bagian kepala janin melalui pembukaan
introitus vagina, ada rasa ingin meneran saat kontraksi, ada dorongan pada
rectum atau vagina, perineum terlihat menonjol, vulva dan springterani membuka,
peningkatan pengeluaran lender darah. Dimulai dari pembukaan lengkap sampai
bayi lahir. Proses ini biasanya berlangsung 2 jam pada primigravid dan 1 jam
pada multigravida.
3.2 Saran
1. Bagi
Mahasiswa
Meningkatkan kualitas
belajar dan memperbanyak literatur dalam pembuatan makalah agar dapat membuat
makalah yang baik dan benar
2.
Bagi Pendidikan
Bagi dosen pembimbing
agar dapat memberikan bimbingan yang lebih baik dalam pembuatan makalah
selanjutnya.
3.
Bagi Kesehatan
Memberikan pengetahuan
kepada mahasiswa kesehatan khususnya untuk mahasiswa kebidanan dapat mengetahui
mengenai Kedaruratan obstetric.
DAFTAR PUSTAKA
http://kti-akbid.blogspot.com/2012/01/persalinan-dengan-ruptura-uteri.html
http://bundowidiafitri.blogspot.com/2012/05/perdarahan-postpartum-sekunder.htmlSenin, 28 Mei 2012
http://ippha-lmh.blogspot.com/2013/06/makalah-perdarahan-post-partum.htmlSabtu, 29 Juni 2013
http://choironisaidah.blogspot.com/p/asfiksia-neonatorum.html
http://nafazablog.blogspot.com/2013/04/prolap-tali-pusatoccult-prolapse.htmlJumat, 19 April 2013
Widjanarko,
B. Prolapsus Tali Pusat. Available from : http://reproduksiumj.blogspot.com/search?q=prolapsus+tali+pusat.
Accessed: 03/11/2
http://ritamarziah.blogspot.com/2012/10/komplikasi-kala-ii-persalinan.htmlSabtu, 20 Oktober 2012
http://hestysofyanaputri.blogspot.com/p/kedaruratan-obstetrik.html